BAB 4

 A.    ANALISIS INCREMENTAL

Analisis incremental biasanya dinyatakan juga sebagai biaya diferensial, biaya marjinal, atau biaya relevan. Analisis incremental ini fleksibel, dimana data dapat dihitung dan disajikan untuk alternative keputusan berdasarkan periode, seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Analisis incremental digunakan dalam pengambilan keputusan ketika jumlah dari alternatif keputusan dan keadaan alam  sangat besar. Penggunaan tabel payoff atau pohon keputusan mungkin terlalu rumit untuk digunakan, sehingga dalam pengambilan keputusan dilakukan pendekatan yang telah disederhanakan. Pendekatan ini membantu pemimpin perusahaan untuk melakukan sejumlah keputusan yang tepat dalam waktu yang relatif singkat. Analisis ini dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti bidang pemasaran atau bidang produksi. Analisis incremental adalah cara pengambilan keputusan di mana biaya operasional atau pendapatan dari satu alternatif dibandingkan dengan alternatif lain. Alternatif keputusan terbaik adalah biaya operasional terkecil atau pendapatan yang terbesar. Analisis incremental dapat digunakan untuk mengevaluasi alternatif-alternatif keputusan, seperti:

  • Menyimpan atau mengganti barang tertentu
  • Membuat atau membeli sejumlah barang tertentu
  • Menjual sekarang atau memproses barang lebih lanjut
  • Menyewa ruangan lain atau melanjutkan kegiatan
  • Melanjutkan atau menghentikan produksi
  • Menerima atau menolak penawaran khusus
  • Perubahan jangka waktu kredit
  • Membuka tempat baru
  • Membeli atau menyewa, dan lain-lain.

Rumus

Probabilitas (P) bahwa akan ada permintaan barang ke-n sama dengan probabilitas bahwa permintaan barang akan sama atau lebih besar dari n.  Ini berarti tidak akan ada permintaan untuk barang ke-n apabila permintaan barang lebih kecil dari n, sehingga jumlah dari kedua nilai probabilitas ialah satu.

P(D ≥ n) + P(D < n) = 1

Apabila menyediakan barang ke-n dan ada permintaan untuk barang tersebut, kemungkinan akan mengalami kerugian 0 (nol).  Namun, apabila menyediakan barang ke-n dan tidak ada permintaan, maka akan mengalami kerugian karena penyediaan berlebih (over stocking) sebesar :

Lo. EL (Q > n) = Lo . P(D < n)

Apabila tidak menyediakan barang ke-n tetapi ada permintaan untuk barang tersebut, kemungkinan akan mengalami kerugian akibat penyediaan kurang sebesar Lu. Sebaliknya, apabila tidak menyediakan barang ke-n dan tidak ada permintaan untuk barang tersebut, tidak akan mengalami kerugian.  Harapan kerugian karena tidak menyediakan barang ke-n sebesar penyediaan berlebih dikalikan  probabilitas.

EL (Q < n) = Lo . P(D ≥ n)

Syarat yang diperlukan untuk menyediakan barang ke-n ialah apabila harapan menyediakan akan sama atau lebih kecil dari harapan kerugian tidak menyediakan.  Dengan kata lain, dapat dituliskan hubungan berikut:

Lo . P(D < n) ≤ Lu . P(D ≥ n)

Jumlah probabilitas dari kedua kejadian tersebut sama dengan satu, yaitu  P(D ≥ n) + P(D < n) = 1. Karena P(D ≥ n) = 1 –  P(D < n), maka dapat ditulis :

Lo . P(D < n) ≤ Lu . P(D ≥ n)

Lo . P(D < n) ≤ Lu . [1 –  P(D < n)]

 Lo  . P(D < n) ≤ Lu – Lu . P(D < n)

Jika ditambahkan Lu . P(D < n) di kedua belah pihak

Lo . P(D < n) + Lu . P(D < n)  ≤ Lu – Lu . P(D < n) + Lu . P(D < n) Lo . P(D < n) + Lu . P(D < n)  ≤ Lu P(D < n) . [Lo + Lu]  ≤ Lu

Dengan membagi kedua belah pihak dengan Lo + Lu , diperoleh

 

P (D < n ) ≤

Hubungan di atas menunjukkan bahwa untuk penyediaan barang ke-n, probabilitas kumulatif barang kurang atau lebih kecil dari n akan sama atau lebih  kecil dari rasio kerugian karena penyediaan berlebih (Lo) dengan jumlah kerugian  karena penyediaan berlebih dan berkurang (Lo + Lu).

Contoh Kasus

Contoh Soal Menerima atau Menolak Pesanan Khusus

Tidak ada tambahan modal atau aktiva

Contoh :

PT. Monetta memproduksi ikat pinggang dalam pabrik yang berkapasitas 1500 satuan pertahun . Untuk tahun anggaran 2012 perusahaan merencanakan akan memproduksi dan menjual produk tersebut sebanyak 1000 satuan dengan harga jual sebesar Rp.5000 persatuan. Anggaran biaya untuk tahun tsb sbb:

Persatuan                             Total

Biaya Variabel:

By. Produksi variabel                     Rp.800                                   Rp.800.000

By. Komersial variabel                         300                                           300.000

Biaya Tetap:

By.Produksi tetap                                700                                             700.000

By. Komersial tetap                             600                                             600.000

                                                   Rp.2400                               Rp2.400.000                            

Misal perusahaan menerima pesanan khusus sebanyak 350 satuan produk tersebut dari perusahaan lain. Harga yang diminta oleh pemesan Rp.2000 perpesanan.

Pendapatan diferensial :                 350 satuan x Rp.2000             Rp.700.000

Biaya diferensial:

By. Produksi Variabel                                Rp.280.000

By. Komersial Variabel                              Rp.105.000

                                                                                                                     Rp.385.000

B.     BENEFIT COST RATIO ANALYSIS

Benefit Cost Ratio Analysis merupakan teknik analisa dalam mengetahui nilai manfaat dari sebuah proyek yang akan dijalankan. Yakni membandingkan antara nilai manfaat dengan nilai investasi/modal.
PW of Benefit – PW of Cost ≥ 0 atau EUAB – EUAC ≥ 0

Sehingga kriteria yang di ambil baik untuk fixed input maupun fixed output sama-sama yang menghasilkan maksimum B/C.

Contoh:
Perusahaan mencoba melakukan modifikasi terhadap alat berat untuk me-reduce pengeluaran dengan mengganti komponen alat X dan komponen alat Y. Biaya penginstalan masing-masing $1.000 dan umur manfaat sampai 5 tahun dan diakhir tahun tidak mempunyai nilai sisa. Komponen alat X menghemat $300 pertahunnya dan komponen Y menghemat $400 di tahun pertama dan menurun $50 di tahun berikutnya. Jika suku bunga 7% komponen mana yang akan di beli perusahaan?

Penyelesaian:

Komponen X:

PW of cost                  = $1.000

PW of Benefit             = 300 (P/A,7%,5) = 300 (4,100) = $ 1230

B/C                              = PW of Benefit / PW of Cost = 1230 / 1000 = 1,23

Komponen Y:

PW of cost                  = $1.000

PW of Benefit             = 400 (P/A,7%,5) – 50 (P/G,7%,5) = 400 (4,100) – 50 (7,647) = 1640 – 382 = $1258

B/C                              = PW of Benefit / PW of Cost = 1258 / 1000 = 1,26

Maksimal B/C, pilih komponen Y.

C.    ANALISA PAYBACK PERIOD

Periode pengembalian – payback period

Periode “Payback” menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali. Periode “Payback” menunjukkan perbandingan antara “initial investment” dengan aliran kas tahunan, dengan rumus umu sebagai berikut :

Nilai Investasi

Payback Period = _______________

Proceed

Apabila periode payback kurang dari suatu periode yang telah ditentukan proyek tersebut diterima, apabila tidak proyek tersebut ditolak.

Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan – penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut juga untuk mengukur kecepatan kembalinya dana investasi.

Kebaikan dan Kelemahan Payback Method

Kebaikan Payback Method

1) Digunakan untuk mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi dengan resiko yang besar dan sulit.

2) Dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya cepat.

3) Cukup sederhana untuk memilih usul-usul investasi.

Kelemahan Payback Method

1) Tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.

2) Tidak memperhitungkan nilai sisa dari investasi.

3) Tidak memperhatikan arus kas setelah periode pengembalian tercapai.

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda

a – b

Payback Period = n +_____ x 1 tahun

c – b

n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula

a = Jumlah investasi mula-mula

b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n

c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1

 

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya sama

Investasi awal

Payback Period = ____________ x 1 tahun

Arus kas

  • Periode pengembalian lebih cepat : layak
  • Periode pengembalian lebih lama : tidak layak
  • Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian yang lebih cepat yang dipilih

Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda

Suatu usulan proyek investasi senilai Rp. 600 juta dengan umur ekonomis 5 tahun, Syarat periode pengembalian 2 tahun, dengan tingkat bunga 12% per tahun, dan arus kas pertahun adalah :

  • · Tahun 1 RP. 300 juta
  • · Tahun 2 Rp. 250 juta
  • · Tahun 3 Rp. 200 juta
  • · Tahun 4 Rp. 150 juta
  • · Tahun 5 Rp. 100 juta

Arus kas dan arus kas kumulatif

1

Periode Pengembalian

a – b

= n +_____ x 1 tahun

c – b

Rp 600jt – Rp 550jt

=2 + _______________ x 1 tahun

Rp 750jt – Rp 550jt

= 2,25 tahun atau 2 tahun 3 bulan

  • Periode pengembalian lebih dari yang disyaratkan oleh perusahaan maka usulan proyek investasi ini di tolak

 D.    BREAK EVENT POINT

Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit. BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur, diantara manfaat BEP adalah

1. alat perencanaan untuk hasilkan laba

2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

3 Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan

4 Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini

Salah satu kelemahan dari BEP yang lain adalah Bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang ini bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi
yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.

Bagaimana cara menghitungnya?

Dalam menyusun perhitungan BEP, kita perlu menentukan dulu 3 elemen dari rumus BEP yaitu :

1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali

2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic, biaya nota penjualan

3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli
Adapun rumus untuk menghitung Break Even Point ada 2 yaitu :

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :

Total Fixed Cost

__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost

Contoh :

Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-

Variable cost Rp.5,000 / unit

Harga jual Rp. 10,000 / unit

Maka BEP per unitnya adalah

Rp.200,000
__________ = 40 units

10,000 – 5,000

Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even point. Pada pejualan unit ke 41, maka took itu mulai memperoleh keuntungan

2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :

Total Fixed Cost

__________________________________ x Harga jual / unit

Harga jual per unit dikurangi variable cost

Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP adalah

Rp.200,000
__________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-
10,000 – 5,000

ANALISIS BREAK EVEN POINT

Analisis BEP dapat memberikan hasil yang memadai, apabila asumsi berikut terpenuhi :

Perilaku penerimaan dan pengeluaran dilukiskan dengan akurat dan bersifat sepanjang rentang yang relevan

·         Biaya dapat dipisahkan antara biaya tetap dan biaya variable

·         Efisiensi dan produktivitas tidak berubah

·         Harga jual tidak berubah

·         Biaya- biaya tidak berubah

·         Bauran penjualan akan konstan

·         Tidak ada perbedaan yang signifikan antara persediaan awal dan persediaan akhir

Pendekatan dalam mengitung BEP

·         Pendekatan Persamaan

·         Pendekatan Marjin Kontribusi

·         Pendekatan Grafik

Pendekatan persamaan

·         Y=cx – bx – a

·         Y = laba

·          c = harga jual per unit

·         x = jumlah produk

·         b = biaya variabel satuan

·         a =biaya tetap total

·         cx = hasil penjualan

·         bx = biaya variabel total

·         X(BEP dalam unit) = a/(c-b)

·         CX(BEP dalam unit) = ac/(c-b) = a/(1 – b/c)

Biaya Tetap Vs Biaya Variabel

Dalam hubungannya dengan volume produksi :

(1)Biaya Variabel

Karakteristik :

·         biaya berubah total sebanding perubahan tingkat aktivitas

·         Biaya satuan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan (biaya satuan konstan)

Contoh dalam perusahan furniture

·         Biaya perlengkapan

·         Biaya bahan bakar

·         Biaya sumber tenaga

·         Biaya perkakas kecil

·         Asuransi aktiva tetap dan kewajiban

·         Gaji satpam dan pesuruh pabri

Dalam hubungannya dengan volume produksi :

(2)Biaya Tetap

Karakteristik :

·         Totalitas tidak berubah terhadap perubahan tingkat aktivitas

·         Biaya satuan berbanding terbalik terhadap perubahan volume kegiatan

Contoh dalam perusahan furniture

·         Biaya penyusutan

·         Gaji eksekutif

·         Pajak bumi dan bangunan

·         Amortisasi paten

·         Biaya penerimaan barang

·         Biaya komunikasi

·         Upah lembur

Dengan metoda

1. Pendekatan Persamaan

2. Pendekatan Marjin Kontribusi

3. Pendekatan Grafik

Pendekatan Margin Kontribusi

·         Mengurangkan nilai penjualan total (total revenue =TR) dengan biaya variabel total (total Variabel cost = TVC)

·         Mengurangkan harga jual per unit dengan biaya variabel per unit guna menghitung margin kontribusi per unit.

Pada Kasus CV. Donut Kotak

Harga Jual per unit Rp. 5.000

Biaya variabel Per Unit Rp. 3.000

Margin kontribusi Rp. 2.000

BEP(unit) = (Biaya tetap Total : Margin kontribusi per unit)
BEP(unit) = 7.500.000/2.000 = 3.750 unit

BEP (rupiah)

Terlebih dahulu harus dihitung Rasio Margin Kontribusi

·         Harga penjualan per unit Rp. 5.000,- 100 %

·         Biaya Variabel per unit Rp. 3.000,- 60 %

·         Margin kontribusi Rp. 2.000,- 40 %

Ratio margin kontribusi = 0,40

BEP (rupiah)= (Biaya tetap Total : Rasio Margin kontribusi) = Rp. 7.500.000/0,40

= Rp. 18.750.000,-

2

E.    ANALISIS SENSITIVITAS (SENSITIVIT ANALYSIS)

PENGERTIAN ANALISIS SENSITIVITAS

Analisis sensivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja system produksi dalam menghasilkan keuntungan.

Dengan melakukan analisis sentivitas maka akibat yang mungkin terjadi dari perubahan-perubahan tersebut dapat diketahui dan diantisifikasi sebelumnya.

Contoh :

Perubahan biaya produksi dapat mempengaruhi tingkat kelayakan.

Alasan dilakukannya analisis sentivitas adalah untuk mengantisipasi adanya perubahan-perubahan berikut :

1.    Adanya cost overrn, yaitu kenaikan biaya-biaya, seperti biaya konstruksi, biaya bahan baku, produksi, dsb.

2.       Penurunan produktivitas

3.       Mundurnya jadwal pelaksanaan proyek

TUJUAN ANALISIS SENSITIVITAS

Menilai apa yang terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu kegiatan investasi atau bisnis apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat

1.  Analisis kelayakan suatu usaha ataupun bisnis perhitungan umumnya di dasarkan pada proyeksi proyeksi yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang

2.    Analisis pasca criteria investasi yang digunakan untuk melihat apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi dan hasil analisisbisnis jika terjadi perubahan atau ketidaktepatan dalam perhitungan biaya atau manfaat

Bisnis sangat sensitivitas terhadap perubahan akibat beberapa hal :

1.       Harga

2.       Keterlambatan pelaksanaan

3.       Kenaikan biaya

4.       Ketidaktetapan dan perkiraan hasil (produksi)

ANALISIS NILAI PENGGANTI (SWITCHING VALUEANALYSIS)

Gittinger (1986) menyatakan bahwa suatu variasi pada analisis sensivitas adalah nilai pengganti (switching value).switching value ini adalah perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum.Perbedaan yang mendasar antara analisis sensivitas yang biasa dilakukan dengan switching value adalah pada analisis sensivitas besarnya perubahan sudah diketahui secara empirik.

 

CONTOH PERHITUNGAN ANALISIS SENSITIVITAS

Sebuah penghitungan padi mempunyai arus kas seperti terlihat pada table analisis penggilingan padi. pada table tersebut juga telah dilakukan penyelesaian dengan menghitung nilai NPV, IRR dan B/C. analisis dilakukan pada tingkat discount factor 15% per tahun.

3

Hasil analisis :

NPV (pada tingkat discount rate 15% per tahun ) = Rp 5915

870+1134+1645+1716+1491+1296+1128+1635

Net B/C    =         5000

2.183

1365000 X (50 – 30)

IRR       = 30 + 1365000 – (-1301000)

= 40.24 %

 

BAB 5

 A.   DEPRESIASI

Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya. Penerapan depresiasi akan memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.

Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.

Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan. Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:

  1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
  2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
  3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran, usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
  4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.

Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:

– nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal (personal property) seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis; dan properti riil (real property) seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.

– tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.

Depresiasi merupakan komponen penting dalam analisis ekonomi teknik, karena:

  1. Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
  2. Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation) nilai asset tersebut. Pengalokasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya selesai.
  3. Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi, sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.

ISTILAH DALAM DEPRESIASI

Beberapa istilah yang sering dipergunakan didalam depresiasi, adalah:

1. Depresiasi adalah penurunan nilai dari suatu asset. Jumlah depresiasi Dt selalu dihitung tahunan.

2. Biaya Awal(First Cost atau Unadjusted Basis) adalah biaya pemasangan dari asset termasuk biaya pembelian, pengiriman dan fee pemasangan, dan biaya langsung lainnya yang dapat dideprisiasikan termasuk persiapan asset untuk digunakan. Istilah unadjusted basis atau simple basis, serta simbul B dipergunakan ketika asset masih dalam keadaan baru.

3. Nilai Buku(Book Value) menggambarkan sisa, investasi yang belum terdepresiasi pada buku setelah dikurangi jumlah total biaya depresiasi pada waktu itu. Nilai buku BVt selalu ditentukan pada akhir tahun.

4. Periode Pengembalian(Recovery Period) umur depresiasi, n, dari asset dalam tahun untuk tujuan depresiasi.

5. Nilai Pasar(Market Value) Perkiraan nilai asset yang realistis jika asset tersebut dijual pada pasar bebas.

6. Tingkat Depresiasi (Depreciation Rate atau Recovery Rate) adalah fraksi dari biaya awal yang diambil dengan depresiasi setiap tahun. Tingkat ini adalah dt, mungkin sama setiap tahun yang sering disebut dengan straight-line rate atau berbeda setiap tahun pada periode pengembaliannya.

7. Nilai Sisa (Salvage Value) Perkiraan nilai jual atau nilai pasar pada akhir masa pakai dari asset tersebut. Nilai sisa SV.

METODE PERHITUNGAN DEPRESIASI

Metode penghitungan depresiasi ada 4 :

  1. Metode Garis Lurus
  2. Metode Unit Produksi
  3. Metode Saldo Menurun Ganda
  4. Metode Jumlah Angka Tahun

METODE GARIS LURUS

Dalam metode garis lurus maka nilai terdepresi / nilai yang didepresiasikan dari sebuah aktiva dibagi rata sepanjang taksiran umur manfaat aktiva tersebut.

Depresiasi=( Nilai Aktiva – Residu ) / Taksiran Umur Manfaat

METODE UNIT PRODUKSI

Dalam metode ini nilai depresiasi tergantung kepada banyaknya produksi yang sudah dihasilkan oleh aktiva tersebut ( biasanya berupa mesin produksi ). Semakin banyak produksi yang dihasilkan oleh mesin tersebut maka akan semakin banyak pula depresiasinya.

Depresiasi =( Produksi yang dihasilkan / Taksiran Kemampuan Berproduksi ) x Nilai Terdepresi

METODE SALDO MENURUN GANDA

Metode ini tidak memperhitungkan adanya nilai sisa / residu. Depresiasi tiap periode menggunakan prosentasi yang sama akan tetapi menghasilkan nilai yang berbeda karena nilai depresiasi pertama mengurangi nilai aktiva pada periode kedua dan seterusnya. Artinya nilai aktiva setiap periode selalu berbeda karena nilai aktiva menurun.

Prosentasi Depresiasi =( 100% / taksiran umur manfaat )x2

Depresiasi Periode 1= Prosentase Depresiasi xNilai Aktiva Periode 1

DEpresiasi Periode 2 =Prosentase Depresiasi x Nilai Aktiva Periode2. Dimana nilai aktiva periode 2 adalah nilai aktiva awal dikurangi nilai depresiasi periode 1.

METODE JUMLAH ANGKA TAHUN

Dalam metode ini depresiasi pada periode pertama jumlahnya paling besar dan dan pada periode terakhir depresiasinya paling kecil. Jadi depresiasi setiap periode berkurang sesuai dengan jumlah angka tahun taksiran umur manfaatnya. Jika taksiran umur manfaat n tahun maka cara menghitungnya adalah

S = n(n+1)/2

Depresiasi tahun 1 =( n / S ) x Nilai Terdepresi

Depresiasi tahun 2=( ( n-1 )/ S ) x Nilai Terdepresi

Depresiasi tahun 3=( ( n-2 ) / S ) x Nilai Terdepresi

Seterusnya sampai habis taksiran umur manfaatnya.

 

B. UMUR EKOMONIS

  • KONSEP

Umur ekonomis adaah Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah penyebaran biaya asal suatu aktiva tetap (bangunan, alat, komputer, dll) selama umur perkiraannya. Penerapan depresiasi akan mempengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan. Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.

Kali ini kita akan lebih membahas apa itu arti dan kegunaan umur ekonomis dalam dunia bidang ekonomi dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Umur ekonomi menurut kegunaannya dibagi menjadi dua jenis, yaitu

1.    Umur ekonomi aset baru

Umur ekonomi aset akan meminimasi ekuivalen biaya tahunan seragam (equivalent uniform annual cost – EUAC) kepemilikan dan pengoperasian aset. Sangat penting untuk mengetahui umur ekonomi aset baru (penantang) berdasarkan prinsip bahwa aset baru dan aset lama harus dibandingkan berdasarkan umur ekonomi (optimum) mereka.

MENENTUKAN UMUR EKONOMI ASET BARU (PENANTANG)

Sangat penting mengetahui umur ekonomi, EUAC minimum dan total biaya tahun demi tahun atau biaya tambahan untuk aset baru maupun aset lama sehingga keduanya dapat dibandingkan berdasarkan evaluasi terhadap umur ekonomi dan biaya yang paling hemat keduanya.Untuk sebuah aset baru, umur ekonominya dapat dihitung jika investasi modal,biaya tahunan dan nilai pasar per tahun diketahui atau dapat diestimasi.

Analisis sebelum pajak

PWk (i%) = I – MVk (P/F,i%,k) + SEj (P/F,i%,j)

TCk (i%) = MVk-1 – MVk + iMVk-1 + Ek

 

Contoh

Sebuah truk forklift baru akan memerlukan investasi sebesar $20.000 dan diharapkan memiliki nilai pasar akhir tahun serta biaya tahunan seperti diperlihatkan pada tabel dibawah ini. Jika MARR sebelum pajak adalah 10% per tahun, berapa lama aset tersebut harus dipertahankan kegunaannya?

Jawab :

Penentuan umur ekonomi N sebelum pajak aset baru :

(1)Akhir tahun,k Biaya penggunaan pada tahun, k EUAC tahun k
(2)MV, akhir tahun, k (3)Penyusutan aktual selama tahun, k (4)Biaya modal = 10% dari MV awal tahun (5)Biaya tahunan (Ek) (6) = (3)+(4)+(5)Total biaya (marginal) tahun k (TCk) (7)EUACk=[STCj(P/F,10%,j)](A/P,10%,k)
0 $20.000
1 15.000 $5.000=20.000-15.000 $2.000= 20.000×0,1 $2.000 $9.000 $9.000
2 11.250 3.750=15.000-11.250 1.500= 15.000×0,1 3.000 8.250 8.643
3 8.500 2.750=11.250-8500 1.125=11.250×0,1 4.620 8.495 8.600® EUAC minimum (N*=3)
4 6.500 2.000=8500-6500 850=8500×0,1 8.000 10.850 9.082
5 4.750 1.750=6500-4750 650=6.500×0,1 12.000 14.400 9.965

Asumsi : semua arus kas terjadi pada setiap akhir tahun.

Kolom 3 : Penyusutan aktual untuk setiap tahun adalah perbedaan antara nilai pasar awal dan akhir tahun. Penyusutan untuk masalah ini tidak dihitung berdasarkan metode formal namun didasarkan pada hasil kekuatan ekspektasi pasar.

Kolom 4 : Opportunity cost modal pada tahun k adalah 10% dari modal yang tidak direcover (diinvestasikan dalam aset) pada awal masing-masing tahun.

Kolom 7 : Equivalent uniform annual cost (EUAC) yang akan timbul setiap tahun jika aset tersebut dipertahankan penggunaannya sampai tahun k, dan selanjutnya digantikan pada akhir tahun. EUAC minimum terjadi pada akhir tahun N*. ® Pada aset disini memiliki EUAC minimum jika dipertahankan kegunaannya hanya selama tiga tahun (yaitu N*=3).

EUAC2 (10%)= $20.000(A/P,10%,2)-$11.250(A/F,10%,2) + [$2.000(P/F,10%,1)

+ $3.000(P/F,10%,2)](A/P,10%,2)

= $8.643

2.    Umur ekonomi aset lama

Pembandingan aset baru dengan lama harus dilakukan secara hati-hati karena melibatkan umur yang berbeda. Aset lama harus dianggap memiliki umur lebih lama dibanding umur ekonomi sebenarnya sepanjang biaya marginalnya kurang dari EUAC minimum aset baru.

MENENTUKAN UMUR EKONOMI ASET LAMA

Jika tidak ada MV aset lama saat ini atau nanti (dan tidak ada pengeluaran untuk perbaikan) dan jika biaya operasi aset lama diperkirakan akan meningkat setiap tahun, maka sisa umur ekonomi yang menghasilkan EUAC paling kecil akan satu tahun.

Jika MV lebih besar dari nol dan diharapkan menurun dari tahun ke tahun, maka perlu dilakukan perhitungan sisa umur ekonomi. Penundaan (postponement) umumnya diartikan sebagai penundaan keputusan mengenai kapan akan melakukan penggantian, bukan mengenai keputusan untuk menunda penggantian sampai tanggal masa datang tertentu.

Contoh

Misalnya ingin diketahui berapa lama sebuah truk forklift harus dipertahankan kegunaannya sebelum diganti dengan truk forklift baru yang data-datanya diberikan pada contoh 3. Truk lama dalam kasus ini sudah berusia dua tahun, yang dibeli dengan biaya $13.000 dan memiliki MV yang dapat dicapai saat ini (realizable MV) sebesar $5.000. Jika dipertahankan, nilai pasar dan biaya tahunannya diperkirakan akan seperti berikut :

Akhir tahun k MV akhir tahun k Biaya tahunan, Ek
1 $4.000 $5.500
2 3.000 6.600
3 2.000 7.800
4 1.000 8.800

Tentukan periode paling ekonomis untuk tetap mempertahankan aset lama sebelum menggantinya dengan aset pengganti yang ada pada contoh 3. Biaya modal adalah 10% per tahun.

Jawaban :

Penentuan umur ekonomi aset lama

(1)Akhir tahun, k (2)Penyusutan aktual selama tahun k (3)Biaya modal = 10% dari MV awal tahun (*) (4)Biaya tahunan (Ek) (5)Total biaya (marjinal) atau tahun (TCi)=(2)+(3)+(4) (6)EUAC sampai tahun k
1 $1.000 $500 $5.500 $7.000 $7.000
2 1.000 400 6.600 8.000 7.474
3 1.000 300 7.800 9.100 7.966
4 1.000 200 8.800 10.000 8.406

(*) tahun satu berdasarkan MV yang dapat dicapai sebesar $5.000

Perhatikan bahwa EUAC minimum sebesar $7.000 berkaitan dengan mempertahankan aset lama satu tahun lagi. Namun, biaya marjinal mempertahankan truk untuk tahun kedua adalah sebesar $8.000, yang masih tetap lebih kecil dari EUAC minimum aset pengganti (yaitu $8.600 dari contoh 3). Biaya marjinal untuk mempertahankan aset lama pada tahun ketiga dan tahun selanjutnya lebih besar dari $8.600 EUAC minimum truk baru. Berdasarkan data yang ada saat ini, paling ekonomis untuk mempertahankan aset lama selama dua tahun lagi dan selanjutnya menggantinya dengan aset baru.

 

 

BAB 6

ANALYSIS REPLACEMENT

Metode Analisis Penggantian Alat {Replacement Analysis) adalah salah satu metode ekonomi yang digunakan untuk menganalisis umur ekonomis sebuah peralatan selama umur guna peralatan tersebut. Parameter-parameter yang dipertimbangkan dalam analisis penggantian peralatan adalah biaya investasi, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan, biaya pengoperasian, nilai sisa dengan mempertimbangkan nilai uang terhadap waktu. Studi ekonomi tentang replacement pada dasarnya sama dengan metoda pembanding alternatif, tujuannya adalah untuk menentukan kapan suatu alat harus diganti dengan alat lain yang baru.

Alasan replacement :

  • Kapasitas alat tidak sesuai dengan demand ( misal demand besar, kapasitansi kecil. )
  • Alat yang ada sudah aus dan tidak dapat dipakai lagi ( baik karena pemakaian normal maupun rusak. )
  • Absolence baik fungsional maupun ekonomi sehingga profit menurun.

Analisa replacement digunakan pada  kondisi :

  • Perfomance menurun
  • Perubahan kebutuhan
  • Ketinggalan jaman

Rumus

Annual cost defender AD = nilai pemasukan – pengeluaran ( A/F,10%,3 )

Annual cos challenger AC = annual operating cost + ( nilai pemasukan – pengeluaran )

(A/P,10%,10) – salvage value ( A/F,10%,10)

Jika AD > AC di sarankan untuk membeli suatu yang baru atau memilih yang challenger, tapi jika AD<AC maka pilihlah defender seminimum mungkin

Contoh Kasus dan Jawabannya

Contoh :

Tiga tahun yang lalu di beli sebuah truk sebagai berikut :

Harga pembelian         $12000

Umur diperkirakan      8tahun

Nilai jual akhir             $1600

Biaya operasi tahunan             $3000

Nilai buku saat ini       $8100

Challenger

Ditawarkan seharga $11000, truk lama bisa ditukar-tambahkan dengan diberi $7500

Umur challengger        10tahun

Nilai jual akhir             $2000

Biaya operasi tahunan             $1800

Bila ditinjau kembali/disesuaikan, truk lama diperkirakan hanya akan bertahan 3tahun lagi dengan perkiraan nilai jual akhir $2000, biaya operasi tahunan sebesar $3000

Data untuk studi perbandingan :

Defender         Challenger

Present value                           $7500              $11000

Annual operating cost             $3000              $1800

Salvage value                          $2000              $2000

Umur                                       3tahun             10tahun

Biaya yang hilang sebesar :

$8100 – $7500 = $600, yang tidak diikutkan dalam analisa. Juga harga pembelian sebesar $12000 tidak lagi relecan.Bagaimana keputusannya bila suku bunga yang berlaku saat ini adalah 10% ?

Jawabannya

Dengan cara annual worth yaitu :

Annual cost defender :

AD = $3000 – $2000 ( A/F,10%,3 )

= $2395,77

Annual cost challenger

AC = $1800 + ( $11000 – $7500 ) ( A/P,10%,10) – $2000 ( A/F,10%,10)

= $2244,12

AD > AC ( pengeluaran )

Pilih challenger atau ganti dengan mesin yang baru

 

SUMBER :

 

http://paybackperiods.blogspot.com/2010/06/periode-pengembalian-payback-period.html

http://yogiefebryanekotek.blogspot.com/2012/02/benefit-cost-ratio-analysis.html

http://anggih91.wordpress.com/2012/10/05/menerima-atau-menolak-pesanan-khusus/

http://arifpiece.blogspot.com/2012/12/ekonomi-teknik.html

http://irnawt.wordpress.com/2011/04/28/pengertian-definisi-dan-rumus-bep-break-even-point-4/

http://achmad-amirudin21.blogspot.com/2012/05/analisis-sensitivitas-titik-impas.html

http://blogtiara.wordpress.com/2011/03/28/depresiasi/

http://irfanramadhan4.wordpress.com/2011/12/30/umur-ekomonis/